Catatan Kaki “Tanah Gorontalo” Part 2

Tumbilotohe

Haiiiiiii, kali ini catatan kaki ku membahas tentang tumbilotohe, kalo masyarakat disini bilangnya malam pasang lampu. Nah kalo menurut wikipedia indonesia “Tumbilotohe adalah perayaan yang menandakan berakhirnya Ramadan di Gorontalo. Perayaan ini dirayakan pada 3 malam terakhir menjelang hari raya Idul Fitri. Pemasangan lampu dimulai sejak waktu magrib sampai menjelang subuh”.

Sejarah Tumbilotohe
Tradisi ini dikabarkan sudah berlangsung sejak abad ke-15.
ketika penerangan masih berupa wango-wango, yaitu alat penerangan yang terbuat dari wamuta atau seludang yang dihaluskan dan diruncingkan, kemudian dibakar. Tahun-tahun berikutnya, alat penerangan mulai menggunakan tohetutu atau damar yaitu semacam getah padat yang akan menyala cukup lama ketika dibakar. Berkembang lagi dengan memakai lampu yang menggunakan sumbu dari kapas dan minyak kelapa, dengan menggunakan wadah seperti kima, sejenis kerang, dan pepaya yang dipotong dua, dan disebut padamala. Seiring dengan perkembangan zaman, maka bahan lampu buat penerangan di ganti minyak tanah hingga sekarang ini. Bahkan untuk lebih menyemarakkan tradisi ini sering ditambahkan dengan ribuan lampu listrik. Tumbilotohe, pateya tohe… ta mohile jakati bubohe lo popatii….. Kalimat pantun ini sering lantunkan oleh anak – anak pada saat tradisi pemasangan lampu dimulai. Budaya turun temurun ini menjadi ajang hiburan masyarakat setempat. Malam tumbilotohe benar – benar ramai, bisa di bilang festival paling ramai di gorontalo. Apalagi kalo diselenggarakan lomba antar kampung atau kecamatan, Kalau ada foto udara, Anda dapat menyaksikan wilayah gorontalo terang bercahaya. Saat tradisi tumbilotohe di gelar, wilayah gorontalo jadi terang benderang, nyaris tak ada sudut kota yang gelap. Gemerlap lentera tradisi tumbilo tohe yang digantung pada kerangka – kerangka kayu yang dihiasi dengan janur kuning atau dikenal dengan nama Alikusu (hiasan yang terbuat dari daun kelapa muda) menghiasi kota gorontalo. Di atas kerangka di gantung sejumlah pisang sebagai lambing kesejahteraan dan tebu sebagai lambing keramahan dan kemuliaan hati menyambut Hari Raya Idul Fitri. Tradisi menyalakan lampu minyak tanah pada penghujung Ramadhan di Gorontalo, sangat diyakini kental dengan nilai agama. Dalam setiap perayaan tradisi ini, masyarakat secara sukarela menyalakan lampu dan menyediakan minyak tanah sendiri tanpa subsidi dari pemerintah. Tanah lapang yang luas dan daerah persawahan di buat berbagai formasi dari lentera membentuk gambar masjid, kitab suci Alquran, dan kaligrafi yang sangat indah dan mempesona. Tradisi tumbilitohe juga menarik ketika warga gorontalo mulai membunyikan meriam bambu atau atraksi bunggo dan festival bedug.

Nah itu tadi sejarahnya, sekarang aku mau cerita, ON PROGRESSS…..

Catatan Kaki “Tanah Gorontalo” Part 1

Kali Pertama ke Gorontalo

Hai, setelah menyelesaikan proses pendidikan BPA BPS Pertamina dan mendapat amanah penempatan kerja di Gorontalo, it’s time to me to explore Gorontalo. Oh iya sebelumnya aku bener- bener blom pernah ke gorontalo jadi ini kali pertamaku menginjakkan kaki di bumi Hulanthalo hihihhiiiii. Aku langsung cerita aja yak hehhee, Maret 2015 ,catatan kaki bermula dari bandara Jalaluddin Gorontalo ke kota gorontalo kurang lebih 30 menit. Daerah yang tenang dengan penduduk yang welcome menggambarkan gorontalo salah satu destinasi wisata maupun tempat membangun keluarga cieee hihiihihiii. Selama dalam perjalanan, banyak dijumpai sawah dan kebun jagung, yap jagung. Jagung merupakan komoditas utama di provinsi gorontalo, sehingga gorontalo dijuluki negeri kaya akan tumbuhan jagung, kalo masyarakat disini menyebutnya milu. Nah berbicara tentang milu alias jagung di gorontalo terdapat hidangan seperti Milu siram yaitu jagung yang telah direbus kemudian disiram oleh kuah asin maupun manis tergantung selera namun untuk masyarakat gorontalo lebih kepada makanan yang pedas, sehingga tak heran jika berkunjung ke gorontalo, kebanyakan makanan yang disuguhkan menggunakan sambel alias rica. Oh iya pertama kali aku makan di gorontalo, pertama aku cobain sambelnya nah bagian temans yang suka tantangan pedas maka mari berkunjung di gorontalo, jadi ceritanya aku makan di gorontalo makan nasi jagung pakai ikan tuna trus sayur kangkung plus sambel, suapan pertama gak masalah trus suapan kedua ya ampun pedesnya minta ampun dan parahnya pedes sampai diperut, nah aku sampai buang air alias mencret 3 hari berturut – turut hihihihhihiiii, namun sekarang aku mulai terbiasa dengan rica alias sambel gorontalo hehheheee.

jalaludinBandara Lama Jalaluddin

*Update Juni 2016 : Bandar Udara Baru Jalaluddin Gorontalo sudah selesai di bangun dan telah dioperasikan sehingga lebih keren dan modern, untuk bandara lama sudah tidak dipergunakan lagi, namun Bandara lama dengan bandara baru hanya berdampingan intinya penambahan Bangunan Utama aja hehehhehe

jala2Bandara Baru Jalaluddin

Nah di gorontalo aku tinggal dikosan, mau sewa rumah nanggung sendiri jadinya mending kosan aja biar hemat hahahahaaa. Trus di gorontalo itu ada Mall Gorontalo, agak besar tapi ga sebesar mall di manado, makassar apalagi jakarta. Untuk destinasi wisata kebanyakan wisata laut seperti pantai saronde, pulau cinta. Kalo untuk spot diving ada di daerah olele.

Video Berikut menggambarkan keindahan Gorontalo :

Mungkin cukup sekian yang bisa aku ceritakan, Nanti aku sambung lagi ceritanya yak,
Stay Tune,,,Next Catatan Kaki “Tanah Gorontalo” Part 2